Selasa, 26 Maret 2013

balaghoh 1+

Makalah

AL-ISNAD AL-AQLI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah : Balaghah 1
Dosen Pengampu : Maman Dzul Iman, S. Ag., MA.




Disusun Oleh :
Ruha Alifah
(1410120072)

Tarbiyah/ PBA – B/ Semester IV
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2012

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa dalam ilmu balaghoh terdapat dua penyandaran yang biasa kita sebut dengan kalam khobar dan kalam insya’. Kalam khabar yaitu kalam yang berisi berita (informatif) yang mungkin benar dan mungkin bohong. Hal ini dilihat dari dzatiyah kalam itu sendiri, dalam arti tanpa memandang siapa yang menyampaikan kalam tersebut.
Sedang kalam insya’ yaitu kalam yang tidak dapat dinisbatkan pada benar atau dusta. Pembicaranya tidak dapat dikatakan sebagai orang yang jujur atau dusta. Sebab kalam ini bukan berisi tentang suatu info/ berita, namun lebih pada sebuah tuntutan.
Namun dipandang dari sisi makna, penyandaran disini juga terbagi atas dua hal, yakni hakikat aqliyah dan majaz aqliyah.
Dalam makalah ini kami bahas sedikitnya tentang hakikat aqliyah dan majaz aqliyah. Tentang pembagiannya dipandang dari pembuktian dan I’tiqodnya ataupun dipandang dari musnad dan musnad ilaihnya.

BAB II
AL-ISNAD AL-AQLI
Dalam ilmu balaghoh terdapat dua penyandaran yang biasa kita sebut dengan kalam khobar dan kalam insya’. Demikian itu adalah dengan memandang dzatiyah kalam itu sendiri, yakni tentang kebenaran atau kedustaan sebuah perkataan. Sedangkan dipandang dari sisi makna, penyandaran juga terbagi atas dua hal, yakni hakikat aqliyah dan majaz aqliyah. )Abdur Rahman: 26)
A. Hakikat Aqliyah
Hakikat aqliyah adalah mengisnadkan fiil atau syibih fiil )masdar, isim fail, isim maful, sifat musyabihat, isim tafdil dan zorof) kepada ma’mulnya menurut kehendak mutakallim. Maksudnya ma’mul disini adalah bisa berupa fail jika fiilnya mani ma’lum, dan maf’ul jika fiilnya mabni majhul. )Abdur Rahman: 21) Contoh: ضرب السارق التاجر yang artinya pencuri telah memukul penjual. Jadi kegiatan memukul disandarkan pada pencuri.
ضرب التاجر yang artinya penjual telah dipukul. Jadi kegiatan dipukul disandarkan pada penjual.
Hakikat aqliyah dipandang dari pembuktian dan I’tiqodnya terbagi menjadi empat, yakni:
1. Sesuai dengan bukti/ realita dan I’tiqodnya, seperti ucapan orang mukmin
انبت الله البقل yang artinya Allah menumbuhkan sayur-sayuran.
2. Sesuai dengan I’tiqod saja, seperti ucapan orang kafir انبت الربيع البقل yang artinya musim hujan menumbuhkan sayur-sayuran. Hal itu hanya sesuai dengan keyakinan mereka saja, tidak sesuai dengan realita yang sebenarnya.
3. Sesuai dengan bukti/ realita saja, seperti ucapan orang mu’tazilah kepada orang lain yang tidak tahu bahwa ia adalah golongan kaum mu’tazilah
خلق الله الأفعال كلهاyang artinya Allah menciptakan seluruh pekerjaan. Hal itu hanya sesuai dengan realita yang sebenarnya, dan tidak sesuai dengan i’tiqod mereka yang meyakini yakni bahwa manusia yang menciptakan pekerjaan.
4. Tidak sesuai dengan bukti/ realita dan i’tiqodnya, seperti ucapan seseorangجاء عبيد الله ketika ia tahu bahwa Ubaid tidak datang. Hal itu tidak sesuai dengan realita dan i’tiqod sebab kenyataannya Ubaid tidak datang dan ia mengetahui hal itu.
Hakikat aqliyah dipandang dari musnad dan musnad ilaihnya terbagi menjadi empat, yakni:
1. Keduanya bermakna hakikatخلق الله محمدا yang artinya Allah menciptakan Muhammad
2. Keduanya bermakna majaz احيا البحر عبيدا yang artinya seorang dermawan telah memberi sesuatu pada Ubaid
3. Musnad bermakna majaz dan musnad ilaih bermakna hakikat احيا اله البقل yang artinya Allah menumbuhkan sayur-sayuran
4. Musnad bermakna hakikat dan musnad ilaih bermakna majaz جاء عبيد yang artinya teman Ubaid telah datang
B. Majaz Aqliyah
Majaz aqliyah adalah mengisnadkan fiil atau syibih fiil )masdar, isim fail, isim maful, sifat musyabihat, isim tafdil dan zorof) kepada selain ma’mulnya dengan disertai qarinah. Maksudnya menyandarkannya pada selain fail ketika fiilnya mani ma’lum, dan kepada selain maf’ul ketika fiilnya mabni majhul. (Ali Al-Jarim dan Musthafa Usman: 162)
Qarinah disini terbagi dua, yakni qarinah lafdziyah dan maknawiyah.
a). Qarinah lafdziyah yakni menambahkan lafadz lain yang menunjukkan isyarat majaz.
Contoh: شيب رأسى توالى الهموم والأحزان ولكن الله يفعل ما يشاء yang artinya kesedihan dan kesusahan telah membuat rambutku beruban, namun sesungguhnya Allah melakukan apa yang Ia kehendaki. Lafadz kedua menunjukkan bahwa yang membuat rambut beruban adalah Allah bukan kesedihan dan kesusahan.
b). Qarinah maknawiyah yakni ketika akal mengatakan tidak mungkin terjadinya musnad terhadap musnad ilaih.
Contoh: محبتك جاءت بي اليك yang artinya rasa cinta membuatku datang kepadamu. Hal ini dikatakan majaz sebab secara akal yang bisa membuat kedatangan seseorang adalah kaki yang berjalan, bukan rasa cinta.
Majaz aqliyah dipandang dari musnad dan musnad ilaihnya terbagi menjadi empat, yakni:
1. Keduanya bermakna hakikat secara bahasa.
Contoh:انبت الربيع البقل yang artinya musim hujan menumbuhkan sayur-sayuran.
2. Keduanya bermakna majaz secara bahasa.
Contoh: احيا الأرض شباب الزمان yang artinya penggantian zaman telah menyuburkan tanah.
3. Musnad bermakna majaz dan musnad ilaih bermakna hakikat.
Contoh: احيا الأرض الربيع yang artinya musim hujan telah menyuburkan tanah.
4. Musnad bermakna hakikat dan musnad ilaih bermakna majaz.
Contoh: انبت البقل شباب الزمان yang artinya penggantian telah menumbuhkan sayur-sayuran.
Yang dimaksud makna hakikat atau majaz disini adalah dilihat dari tinjauan bahasa, bukan realita. Contoh-contoh diatas adalah termasuk majaz aqliyah sebab hakikatnya yang menumbuhkan atau menyuburkan adalah Allah semata.
Sedangkan majaz aqliyah yang kalimat fiilnya disandarkan pada fail atau mafulnya, maka ia termasuk isnad hakiki. (Abdur Rahman: 24) Dan hal itu bisa dilihat secara jelas, seperti contoh: ثوب لابس asalnya لبس عبيد ثوبا dengan proses failnya dibuang lalu kalimat fiilnya dirubah menjadi isim fail dan disandarkan pada dlomir yang merujuk ke lafadz ثوب .
BAB III
KESIMPULAN
Dipandang dari sisi lain, dalam ilmu balaghoh terdapat dua penyandaran yakni hakikat aqliyah dan majaz aqli.
Hakikat aqliyah adalah mengisnadkan fiil atau syibih fiil )masdar, isim fail, isim maful, sifat musyabihat, isim tafdil dan zorof) kepada ma’mulnya menurut kehendak mutakallim.
Majaz aqliyah adalah mengisnadkan fiil atau syibih fiil )masdar, isim fail, isim maful, sifat musyabihat, isim tafdil dan zorof) kepada selain ma’mulnya dengan disertai qarinah.
Kedua hal tersebut, baik hakikat aqliyah ataupun majaz aqliyah, dipandang dari musnad dan musnad ilaihnya terbagi menjadi empat, yakni:
1. Keduanya bermakna hakikat secara bahasa.
2. Keduanya bermakna majaz secara bahasa.
3. Musnad bermakna majaz dan musnad ilaih bermakna hakikat.
4. Musnad bermakna hakikat dan musnad ilaih bermakna majaz.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jarim, Ali dan Musthafa Usman. 2006. Al-Balaghatul Waadhihah Terj. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Al-Akhdlori, Abdur Rahman Ibn Muhammad. 2003. Al-Jauhar Al-Maknun. Kediri: Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien
Banna’, Haddam. 1405. Al-Balaghah fi’ilmi Al-Bayan. Ponorogo: Ma’had Dar As-Salam Gontor
Hidayat. 2002. Al-Balaghah li Al-Jami’ Wasy-Syawahid min Kalam Al-Badi’. Semarang: PT. Karya Toha Putra
Zaenuddin, Mamat dan Yayan Nurbayan. 2007. Pengantar Ilmu Balaghah. Bandung: PT Refika Aditama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar