Jumat, 28 Juni 2013
ambil hikmahnyaa
Tadi pagi q lewat depan suatu rumah, ada orang tua duduk di terasnya, aq bersepeda, biasanya aq turun dan menjabat tangan 0rang itu, namun saat itu aq malas, gak m0od, setelah bergulat cepat dalam hati, syetan berhasil mengalahkanku, aq pun tak turun, cuma senyum sambil mengucapkan 'punten', 0rang itupun tersenyum, kurasa ia tak masalahkan sikapq, namun tiba-tiba, "dukk" kepalaq tersundul buah mangga, tak sadar ada buah rendah dalam p0hon depan rumah itu, tak cedera si, cuma malu kurasa, hihihi.
TANDA-TANDA SEBELUM KITA MENINGGAL
" Tanda 100 hari mau meninggal "
Ini adalah tanda pertama dari ALLAH SWT kepada hambanya
dan hanya akan Disadari oleh mereka yang dikehendakinya......
Walau bagaimanapun semua orang islam akan mendapat tanda ini
hanya sajamereka menyadari atau tidak.....
Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu ashar,
seluruh tubuh yaitu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran
atau seakan-akan menggigil,
contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti,
kita akan mendapati daging tersebut seakan -akan bergetar......
Tanda ini rasanya nikmat dan bagi mereka yang sadar
dan berdetik dihati bahwa mungkin ini adalah tanda mati,
maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini.
Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut tanpa memikirkan soal kematian,
tanda ini akan lenyap begitusaja tanpa sembarang manfaat...
Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini,
maka ini adalah peluang Terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri
dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.
" Tanda 40 hari sebelum hari mati "
Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu ashar,
bahagian pusat kita Akan berdenyut-denyut pada ketika ini daun yang tertulis nama kita
akan Gugur dari pokok yang letaknya diatas arash ALLAH SWT,
maka malaikat mautakanmengambil daun tersebut
dan mulai membuat persediaannya ke atas kita,
antaranya ialah ia akan mulai mengikuti kita sepanjang masa ...
Akan terjadi malaikat maut ini memperlihatkan wajahnya sekilas lalu danjika ini terjadi,
mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akanbingung seketika...
Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang
tetapi kuasanya untukmencabut nyawa adalah bersamaan
dengan jumlah nyawa yang akandicabutnya.........
" Tanda 7 hari "
Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka
yang diuji dengan musibah kesaktian dimana orang sakit yang tidak makan,
secara tiba-tibaia berselera untuk makan...
" Tanda 3 har i "
Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita
yaitu diantara dahi kanan dan kiri,
jika tanda ini dapat dikesan maka berpuasalah kita selepas itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis
dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti....
Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi
dan bagi orangyang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh
dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bahagian sisi...
Telinganya akan layu dimana bagian ujungnya akan beransur-ansur masuk Ke dalam...
Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dansukarditegakan...
" Tanda 1 hari "
Akan berlaku sesudah ashar dimana kita akan merasakan
satu denyutan disebelah belakang yaitu di kawasan ubun-ubun
dimana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu ahsar keesokan harinya....
" Tanda akhir "
Akan terjadi keadaan dimana kita akan merasakan sejuk dibahagian pusat
dan rasa itu akan turun kepinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian Halkum...
Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimat SYAHADAT dan berdiamdiri
dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada ALLAH SWT yang telah menghidupkan kita
dan sekarang akan mematikan pula...
wallah'ualam...
SESUNGGUHNYA MENGINGAT MATI ITU ADALAH BIJAK
Forward this teksl...may ALLAH SWT bless you...Saling berpesan-pesanlah sesama kita...Semoga kita tetap sadar...hingga pada akhirnya
Amien......
Selasa, 25 Juni 2013
دراسة مقارنة
دراسة مقارنة
إخوانى يا إخواني كيف حالكم؟ ما ثمرة ايديكم من باندنج بالأمس؟ نعم قد سافرنا في الأسبوع الماضي إلي الجامعة إندونيسية التربوية لدراسة مقارنة (او لدراسة المقارنة؟) لكن اولالم ابحث فيها هنا و إنما ابحث في كتابة اللغة العربية الاصح بينهما اى بين دراسة مقارنة ودراسة المقارنة نحن معاشر الطلاب في قسم اللغة العربية ينبغي علينا ان نعرف عن فرق بينهما ان "دراسةالمقارنة" تركيب إضافي كماعرفنا ان في التركيب الإضافي معاني من حروف جر اعني من او في او لام كما يذكر في نظم عمريطى و الفية إبن مالك وفي رأي اخر اربعة معاني من حروف جر اعني من او في او لام او إلى . فإذا قلنا ان "دراسة المقارنة" هو الأصح .فوجدنا السؤال، اي المعاني من حروف جر الذي يضمر في هذا التركيب؟
إذن يسهل علينا ان نقول ان"دراسة مقارنة" تركيب وصفي هو الأصح
والان سأبحث معكم فيما يوجد فى الجامعة اندونيسية التربوية باندونج , اذا وصلنا اليها ننظر مباشرة الى المبانى الكبير وتقف امامه السيارات مستدبرة من المبانى . والاجراءات الاكاديمية فيها تجري بالخير . وفيها برامج حاسوبية بملوف باللغة العربية . وفيها منظمة متكامل لانها يتبع الى منظمة حكومية اندونيسية وعملية التعليم والتعلم فيها تكمل بالعمل والممارسة لان فيها وسائل متكامل متداعم
هذا قليلا عندى كما انظر واشعر واسأل الى رئيسة قسم اللغة العربية ورئيس اتحاد الطلاب لقسم اللغة العربية ورئيس فرقة تطوير منظمة فيه وبعض الأصدقاء الاخرى . عسى الله ان ينفعنا بهذه دراسة مقارنة . والله اعلم
إخوانى يا إخواني كيف حالكم؟ ما ثمرة ايديكم من باندنج بالأمس؟ نعم قد سافرنا في الأسبوع الماضي إلي الجامعة إندونيسية التربوية لدراسة مقارنة (او لدراسة المقارنة؟) لكن اولالم ابحث فيها هنا و إنما ابحث في كتابة اللغة العربية الاصح بينهما اى بين دراسة مقارنة ودراسة المقارنة نحن معاشر الطلاب في قسم اللغة العربية ينبغي علينا ان نعرف عن فرق بينهما ان "دراسةالمقارنة" تركيب إضافي كماعرفنا ان في التركيب الإضافي معاني من حروف جر اعني من او في او لام كما يذكر في نظم عمريطى و الفية إبن مالك وفي رأي اخر اربعة معاني من حروف جر اعني من او في او لام او إلى . فإذا قلنا ان "دراسة المقارنة" هو الأصح .فوجدنا السؤال، اي المعاني من حروف جر الذي يضمر في هذا التركيب؟
إذن يسهل علينا ان نقول ان"دراسة مقارنة" تركيب وصفي هو الأصح
والان سأبحث معكم فيما يوجد فى الجامعة اندونيسية التربوية باندونج , اذا وصلنا اليها ننظر مباشرة الى المبانى الكبير وتقف امامه السيارات مستدبرة من المبانى . والاجراءات الاكاديمية فيها تجري بالخير . وفيها برامج حاسوبية بملوف باللغة العربية . وفيها منظمة متكامل لانها يتبع الى منظمة حكومية اندونيسية وعملية التعليم والتعلم فيها تكمل بالعمل والممارسة لان فيها وسائل متكامل متداعم
هذا قليلا عندى كما انظر واشعر واسأل الى رئيسة قسم اللغة العربية ورئيس اتحاد الطلاب لقسم اللغة العربية ورئيس فرقة تطوير منظمة فيه وبعض الأصدقاء الاخرى . عسى الله ان ينفعنا بهذه دراسة مقارنة . والله اعلم
Selasa, 18 Juni 2013
andaii,,
“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah".”
(QS An-Naba’, ayat 40)
يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَاباً
Masih ingat dengan kalimat diatas? Ya, itu adalah penggalan dari ayat terakhir surat An-Naba’. Ayat yang menceritakan keadaan para kafir di akhirat. “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. “Kenapa tak Kau jadikan aku debu, Tuhan”. “Andai aku juga dirubah menjadi debu”. Itu adalah kalimat yang terucap oleh para kafir saat melihat Allah menjadikan para hewan menjadi debu, sehingga tidak merasakan siksa.
Diceritakan dari Abi Hurairah: Sesungguhnya Allah mengumpulkan hewan, burung dan manusia di padang Mahsyar, lalu Allah berfirman pada hewan dan burung, jadilah debu! Maka pada saat itu para kafir berkata “andai aku juga dirubah menjadi debu”.
Dalam tafsir Qurthubi, perkataan itu bukan dikatakan oleh para kafir, namun seorang mukmin. Beberapa pendapat menyebutkan satu nama yang berbeda, seperti Ubay Ibn Khalf, ‘Uqbah Ibn Abi Mu’ith, Abu Jahl, dll. pendapat lain mengatakan bahwa pengucap disini adalah semua orang yang menyaksikan pembalasan dihari tersebut, cukup dengan melihat kalimat sebelumnya (dalam ayat tersebut,red) yakni “pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya”.
Sedang menurut As-Sa’labi sang pengucap disini adalah iblis yang pada awalnya menghina nabi Adam yang diciptakan dari tanah, dan sombong sebab ia diciptakan dari api. Yakni diucapkan pada saat melihat keadaan anak Adam yang diberi pahala dan kasih sayang, sedang ia disiksa. Ia berharap menjadi seperti Adam yang diciptakan dari tanah, bukan dari api.
Sedangkan Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan: Pada hari itu para kafir berfikir, andai saja dulu (saat didunia) aku hanya sebutir debu, tidak diciptakan dalam bentuk manusia, tentu aku akan merasa senang. Ucapan itu mereka katakan saat melihat siksa Allah di akhirat, dan segala perbuatan buruk mereka yang telah dicatat malaikat.
Terlepas dari perbedaan pendapat dan pemahaman diatas, kita sebagai manusia berakal seyogyanya mampu mengambil hikmah, dengan memanfaatkan keadaan diri untuk senantiasa menjadi hamba yang bertaqwa, agar kelak kita tidak termasuk golongan yang berkata يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَاباً
Walloh a’lam..
(QS An-Naba’, ayat 40)
يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَاباً
Masih ingat dengan kalimat diatas? Ya, itu adalah penggalan dari ayat terakhir surat An-Naba’. Ayat yang menceritakan keadaan para kafir di akhirat. “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. “Kenapa tak Kau jadikan aku debu, Tuhan”. “Andai aku juga dirubah menjadi debu”. Itu adalah kalimat yang terucap oleh para kafir saat melihat Allah menjadikan para hewan menjadi debu, sehingga tidak merasakan siksa.
Diceritakan dari Abi Hurairah: Sesungguhnya Allah mengumpulkan hewan, burung dan manusia di padang Mahsyar, lalu Allah berfirman pada hewan dan burung, jadilah debu! Maka pada saat itu para kafir berkata “andai aku juga dirubah menjadi debu”.
Dalam tafsir Qurthubi, perkataan itu bukan dikatakan oleh para kafir, namun seorang mukmin. Beberapa pendapat menyebutkan satu nama yang berbeda, seperti Ubay Ibn Khalf, ‘Uqbah Ibn Abi Mu’ith, Abu Jahl, dll. pendapat lain mengatakan bahwa pengucap disini adalah semua orang yang menyaksikan pembalasan dihari tersebut, cukup dengan melihat kalimat sebelumnya (dalam ayat tersebut,red) yakni “pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya”.
Sedang menurut As-Sa’labi sang pengucap disini adalah iblis yang pada awalnya menghina nabi Adam yang diciptakan dari tanah, dan sombong sebab ia diciptakan dari api. Yakni diucapkan pada saat melihat keadaan anak Adam yang diberi pahala dan kasih sayang, sedang ia disiksa. Ia berharap menjadi seperti Adam yang diciptakan dari tanah, bukan dari api.
Sedangkan Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan: Pada hari itu para kafir berfikir, andai saja dulu (saat didunia) aku hanya sebutir debu, tidak diciptakan dalam bentuk manusia, tentu aku akan merasa senang. Ucapan itu mereka katakan saat melihat siksa Allah di akhirat, dan segala perbuatan buruk mereka yang telah dicatat malaikat.
Terlepas dari perbedaan pendapat dan pemahaman diatas, kita sebagai manusia berakal seyogyanya mampu mengambil hikmah, dengan memanfaatkan keadaan diri untuk senantiasa menjadi hamba yang bertaqwa, agar kelak kita tidak termasuk golongan yang berkata يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَاباً
Walloh a’lam..
Kamis, 02 Mei 2013
ANALISIS DAN LINGUISTIK KONTRASTIF
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kajian linguistik bahwa seseorang yang mampu berbicara dua bahasa secara bergiliran disebut dwibahasawan, hampir mayoritas masyarakat mempunyai kemampuan untuk menguasidwi bahasa, bahasa yang pertama kali dikuasai disebut bahasa ibu atau bahasa pertama (B1) merupakan bahasa yang pertama kali dia gunakan dalam lingkungan keluarga maupunlingkungan sosialnya.
Kemudian bahasa yang kedua dipelajari disebut bahasa kedua (B2), dan ini diperoleh ketika anak berinteraksi dengan lingkungan nya yang lebih luas. Bahasa ketiga, namun istilah ini lebih dikenal dalam istilah linguistik dengan istilah bahasa asing.
Namun seringkali perbedaan antara bahasa pertama dan kedua menjadi kendala dalam pembelajaran bahasa kedua. Perbedaan inilah yang menarik untuk dibicarakan, diteliti dan dipahami. Dalam makalah ini kami akan membahas sedikitnya tentang perbedaan-perbedaan tersebut mencakup analisis kontrastif dan linguistik kontrastif.
BAB II
ANALISIS DAN LINGUISTIK KONTRASTIF
Dalam bidang linguistik, pemakaian istilah-istilah bahasa ibu, bahasa nasional dan bahasa asing atau lebih dikenal dengan bahasa pertama, bahasa kedua, dan bahasa asing tidak hanya taksonomis, melainkan terlebih mempunyai implikasi sosiologis.
Lebih jauh penguasaan sebuah bahasa oleh seorang anak dimulai dengan perolehan bahasa pertama yang sering kali disebut bahasa ibu (B1). Pemerolehan bahasa merupakan sebuah proses yang sangat panjang sejak anak belum mengenal sebuah bahasa sampai fasih berbahasa. Setelah bahasa ibu diperoleh maka pada usia tertentu anak belajar bahasa lain atau bahasa kedua (B2) yang ia kenal sebagai khazanah pengetahuan yang baru. Bahasa kedua akan dikuasai secara fasih apabila bahasa pertama (B1) yang diperoleh sebelumnya sangat erat hubungannya (khususnya bahasa lisan) dengan bahasa kedua tersebut.Hal itu memerlukan proses, dan kesempatan yang banyak.
Kefasihan seorang anak untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu. Jika kesempatan banyak maka kefasihan berbahasanya semakin baik.
Di dalam pembelajaran B2 kepada siswa akan dijumpai kebiasaan-kebiasaan B1 digunakan kedalam B2. Kebiasaan ini bisa berupa sistem B1 yang digunakan ke dalam B2. Padahal kedua bahasa tersebut memiliki sistem yang berbeda. Hal ini akan menjadi kendala dalam pembelajaran B2, untuk itu muncul istilah analisis kontrastif dan linguistik kontrastif.
A. Analisis Kontrastif
Analisis dapat diartikan sebagai semacam pembahasan atau uraian. Yang dimaksud dengan pembahasan adalah proses atau cara membahas yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu dan memungkinkan dapat menemukan inti permasalahannya. Permasalahan yang ditemukan itu kemudian dikupas, dikritik. diulas, dan akhirnya disimpulkan untuk dipahami.
Menurut Moeliono, analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Sedangkan kontrastif dapat diartikan sebagai perbedaan atau pertentangan antara dua hal. Moeliono menjelaskan bahwa kontrastif diartikan sebagai bersifat membandingkan perbedaan.
Analisis kontrastif, seperti yang dikemukakan Mansur, adalah merupakan pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara bahasa ibu dengan bahasa sasaran. Perbandingan tersebut akan menghasilkan persamaan, kemiripan, dan perbedaan sehingga guru dapat memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan belajar, menyusun bahan pengajaran, dan mempersiapkan cara-cara menyampaikan bahan pengajaran.
Menurut pendapat Tarigan, analisis kontrastif adalah kegiatan untuk membandingkan struktur bahasa ibu dan bahasa sasaran serta langkah-langkah struktur bahasa ibu dan bahasa sasaran, mempredeksi kesulitan belajar, menyusun bahan pengajaran dan mempersiapkan cara-cara menyampaikan bahan pengajaran.
Berdasarkan pengertian diatas, analisis kontrastif adalah kegiatan membandingkan persamaan dan perbedaan antara bahasa ibu dan bahasa sasaran. Sehubungan dengan ini kemudian muncul istilah linguistik kontrastif yang merupakan cabang ilmu bahasa.
Pranowo mengatakan bahwa analisis kontrastif memiliki beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Memberikan wawasan tentang perbedaan dan persamaan antar bahasa pertama dan bahasa yang akan dipelajari
2. Menjelaskan dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul dalam belajar bahasa kedua
3. Mengembangkan bahan pelajaran bahasa kedua
4. Membantu siswa untuk menyadari kesalahan dalam berbahasa sehingga siswa dapat menguasai bahasa yang sedang dipelajari dalam waktu yang tidak terlalu lama
B. Linguistik Kontrastif
Menurut pendapat para linguis modern, pengajaran bahasa didasarkan pada beberapa prinsip, prinsip yang terpenting antara lain linguistik kontrastif. Linguistik kontrastif yaitu salah satu cabang ilmu bahasa yang membandingkan dua bahasa dari segala komponennya secara sinkronik sehingga ditemukan perbedaan dan kemiripan. Dari hasil temuan itu, dapat diduga adanya berbagai penyimpangan, pelanggaran, atau kesalahan yang mungkin dilakukan para dwibahasawan.
Objek kajian linguistik kontrastif adalah pengkontrasan antara dua bahasa atau dua dialek atau bahasa dan dialek, yaitu antara dua tataran bahasa yang semasa.
Linguistik kontrastif bertujuan membuktikan perbedaan-perbedaan antara dua tataran. Oleh karena itu, ia pada prinsipnya mengacu pada linguistik deskriptif. Apabila kedua tataran bahasa itu terdeskripsikan secara cermat melalui satu metode bahasa, maka setelah itu keduanya dapat dikaji melalui metode kontrastif.
Konfirmasi perbedaan antara kedua tataran bahasa dapat memperjelas aspek-aspek kesulitan dalam pengajaran bahasa. Apabila seorang penutur bahasa Inggris ingin belajar bahasa Arab, maka kesulitan yang dihadapi pertama kali merujuk keperbedaan bahasa ibu, yaitu bahasa Inggris dengan bahasa yang ia pelajari, yaitu bahasa Arab. Ada perbedaan individual yang membuat sebagian mereka mampu mempelajari bahasa asing lebih cepat daripada yang lainnya. Akan tetapi linguistik kontrastif tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan ini, melainkan memperhatikan perbedaan yang objektif.
Oleh karena itu, ia mengkontraskan dua tataran bahasa dengan tujuan mengkaji aspek-aspek perbedaan di antara keduanya dan mengidentifikasi kesulitan yang diakibatkan oleh perbedaan itu. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para penutur bahasa Jepang dalam mempelajari bahasa Arab tidak sama dengan kesulitan yang dihadapi oleh para penutur bahasa Indonesia ketika mereka belajar bahasa Arab. Menentukan kesulitan yang objektif dapat dilakukan melalui pengkontrasan antara bahasa ibu dan bahasa sasaran.
Berikut ini beberapa pengkontrasan antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab:
a. Kontrastif Vokal Bahasa Indonesia dan Arab
Vokal bahasa Indonesia dan bahasa Arab mempunyai perbedaan yaitu:
1. Vokal bahasa Indonesia varian fonemnya lebih banyak dibanding bahasa Arab. Bahasa Indonesia berjumlah sepuluh fonem sedang Arab hanya ada tiga fonem.
2. Vokal dalam bahasa Arab bisa mempengaruhi panjang pendek kata/ kalimah di mana panjang pendeknya itu mempengaruhi makna. Sedangkan vokal dalam bahasa Indonesia tidak dapat dipanjang-pendekkan dan tidak mempengaruhi makna.
3. Di dalam bahasa Arab hanya ada monoftong, tidak ada diftong, berbeda dengan bahasa Indonesia yang mempunyai vokal diftong.
4. Vokal bahasa Arab ketika berdiri sendiri dapat menjadi sebuah kata dan mempunyai makna, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak dapat berdiri sendiri harus bergabung dengan fonem yang lain dalam membentuk kata dan makna.
b. Kontrastif antara Konsonan Arab dengan Konsonan Indonesia
1. Konsonan yang bersamaan
a. B dan Ba bilabial/letupan/bersuara
b. M dan Mim bilabial/nasal/bersuara
c. W dan Waw bilabial/geseran/bersuara
d. F dan fa labiodental/geseran/tidak bersuara
e. K dan kaf dorsovelar/letupan/tidak bersuara
f. Q dan qaf dorsouvular/letupan/bersuara
g. H dan Ha pharyngal/geseran/tidak bersuara
2. Konsonan yang Berbeda Sifat atau Makhraj
a. sin (apikodental/geseran/tidak bersuara), sedangkan S (laminoalveolar/ geseran/tidak bersuara)
b. zai (apikodental/geseran/bersuara), sedangkan Z (laminoalveolar/geseran/ bersuara)
c. ta (apikoalveolarl/letupan/tidak bersuara), sedangkan T (apikodental/letupan/tidak bersuara)
d. dal (apikoalveolar/letupan/bersuara), sedangkan D (apikopalatal/letupan/bersuara)
e. lam (apikoalveolar/sampingan/bersuara), sedangkan L (apikoalveolar/sampingan/ bersuara)
f. nun (apikopalatal/sampingan/bersuara), sedangkan N (apikoalveolar/geseran/nasal/bersuara)
g. ra (apikopalatal/geseran/nasal/bersuara), sedangkan R (apikoalveolar/geseran/berulang/bersuara
h. syin (apikopalatal/geseran/tidak bersuara), sedangkan Sy (laminoalveolar/geseran/tidak bersuara)
i. jim (apikopalatal/letupan/bersuara), sedangkan J (mediopalatal/campuran/bersuara)
j. ya (apikopalatal/gesera/bersuara/semivokal), sedangkan Y (mediopalatal/geseran/bersuara/semivokal)
k. ghain (faringal/geseran/bersuara), sedangkan G (dorsovelar/geseran/bersuara)
l. kha (faringal/geseran/tidak bersuara), sedangkan Kh (dorsovelar/geseran/tidak bersuara)
m. hamzah (faringal/letupan/bersuara), sedangkan hamzah (glottal/letupan/antara)
BAB III
KESIMPULAN
Kefasihan seorang anak untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu. Jika kesempatan banyak maka kefasihan berbahasanya semakin baik.
Di dalam pembelajaran B2 kepada siswa akan dijumpai kebiasaan-kebiasaan B1 digunakan kedalam B2. Kebiasaan ini bisa berupa sistem B1 yang digunakan ke dalam B2. Padahal kedua bahasa tersebut memiliki sistem yang berbeda.
Secara khusus analisis kontrastif atau lebih populer disingkat anakon adalah kegiatan memperbandingkan struktur bahasa ibu atau bahasa pertama (Bl) dengan bahasa yang diperoleh atau dipelajari sesudah bahasa ibu yang lebih dikenal dengan bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa tersebut.
Linguistik kontrastif bertujuan membuktikan perbedaan-perbedaan antara dua tataran. Oleh karena itu, ia pada prinsipnya mengacu pada linguistik deskriptif. Apabila kedua tataran bahasa itu terdeskripsikan secara cermat melalui satu metode bahasa, maka setelah itu keduanya dapat dikaji melalui metode kontrastif. Konfirmasi perbedaan antara kedua tataran bahasa dapat memperjelas aspek-aspek kesulitan dalam pengajaran bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
- Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta
- Mansur. 1989. Analisis Kesalahan. Ende: Nusa Indah
- Moeliono, A.M. 1988. Sikap Bahasa Yang Bertalian Dengan Usaha Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. Makalah dalam kongres bahasa V. Jakarta
- Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
- Samsuri. 1981. Analisis Bahasa. Jakarta. Erlangga
- Tarigan. 1990. Pengajaran Analisis Bahasa. Bandung:Angkasa
PENDAHULUAN
Dalam kajian linguistik bahwa seseorang yang mampu berbicara dua bahasa secara bergiliran disebut dwibahasawan, hampir mayoritas masyarakat mempunyai kemampuan untuk menguasidwi bahasa, bahasa yang pertama kali dikuasai disebut bahasa ibu atau bahasa pertama (B1) merupakan bahasa yang pertama kali dia gunakan dalam lingkungan keluarga maupunlingkungan sosialnya.
Kemudian bahasa yang kedua dipelajari disebut bahasa kedua (B2), dan ini diperoleh ketika anak berinteraksi dengan lingkungan nya yang lebih luas. Bahasa ketiga, namun istilah ini lebih dikenal dalam istilah linguistik dengan istilah bahasa asing.
Namun seringkali perbedaan antara bahasa pertama dan kedua menjadi kendala dalam pembelajaran bahasa kedua. Perbedaan inilah yang menarik untuk dibicarakan, diteliti dan dipahami. Dalam makalah ini kami akan membahas sedikitnya tentang perbedaan-perbedaan tersebut mencakup analisis kontrastif dan linguistik kontrastif.
BAB II
ANALISIS DAN LINGUISTIK KONTRASTIF
Dalam bidang linguistik, pemakaian istilah-istilah bahasa ibu, bahasa nasional dan bahasa asing atau lebih dikenal dengan bahasa pertama, bahasa kedua, dan bahasa asing tidak hanya taksonomis, melainkan terlebih mempunyai implikasi sosiologis.
Lebih jauh penguasaan sebuah bahasa oleh seorang anak dimulai dengan perolehan bahasa pertama yang sering kali disebut bahasa ibu (B1). Pemerolehan bahasa merupakan sebuah proses yang sangat panjang sejak anak belum mengenal sebuah bahasa sampai fasih berbahasa. Setelah bahasa ibu diperoleh maka pada usia tertentu anak belajar bahasa lain atau bahasa kedua (B2) yang ia kenal sebagai khazanah pengetahuan yang baru. Bahasa kedua akan dikuasai secara fasih apabila bahasa pertama (B1) yang diperoleh sebelumnya sangat erat hubungannya (khususnya bahasa lisan) dengan bahasa kedua tersebut.Hal itu memerlukan proses, dan kesempatan yang banyak.
Kefasihan seorang anak untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu. Jika kesempatan banyak maka kefasihan berbahasanya semakin baik.
Di dalam pembelajaran B2 kepada siswa akan dijumpai kebiasaan-kebiasaan B1 digunakan kedalam B2. Kebiasaan ini bisa berupa sistem B1 yang digunakan ke dalam B2. Padahal kedua bahasa tersebut memiliki sistem yang berbeda. Hal ini akan menjadi kendala dalam pembelajaran B2, untuk itu muncul istilah analisis kontrastif dan linguistik kontrastif.
A. Analisis Kontrastif
Analisis dapat diartikan sebagai semacam pembahasan atau uraian. Yang dimaksud dengan pembahasan adalah proses atau cara membahas yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu dan memungkinkan dapat menemukan inti permasalahannya. Permasalahan yang ditemukan itu kemudian dikupas, dikritik. diulas, dan akhirnya disimpulkan untuk dipahami.
Menurut Moeliono, analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Sedangkan kontrastif dapat diartikan sebagai perbedaan atau pertentangan antara dua hal. Moeliono menjelaskan bahwa kontrastif diartikan sebagai bersifat membandingkan perbedaan.
Analisis kontrastif, seperti yang dikemukakan Mansur, adalah merupakan pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara bahasa ibu dengan bahasa sasaran. Perbandingan tersebut akan menghasilkan persamaan, kemiripan, dan perbedaan sehingga guru dapat memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan belajar, menyusun bahan pengajaran, dan mempersiapkan cara-cara menyampaikan bahan pengajaran.
Menurut pendapat Tarigan, analisis kontrastif adalah kegiatan untuk membandingkan struktur bahasa ibu dan bahasa sasaran serta langkah-langkah struktur bahasa ibu dan bahasa sasaran, mempredeksi kesulitan belajar, menyusun bahan pengajaran dan mempersiapkan cara-cara menyampaikan bahan pengajaran.
Berdasarkan pengertian diatas, analisis kontrastif adalah kegiatan membandingkan persamaan dan perbedaan antara bahasa ibu dan bahasa sasaran. Sehubungan dengan ini kemudian muncul istilah linguistik kontrastif yang merupakan cabang ilmu bahasa.
Pranowo mengatakan bahwa analisis kontrastif memiliki beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Memberikan wawasan tentang perbedaan dan persamaan antar bahasa pertama dan bahasa yang akan dipelajari
2. Menjelaskan dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul dalam belajar bahasa kedua
3. Mengembangkan bahan pelajaran bahasa kedua
4. Membantu siswa untuk menyadari kesalahan dalam berbahasa sehingga siswa dapat menguasai bahasa yang sedang dipelajari dalam waktu yang tidak terlalu lama
B. Linguistik Kontrastif
Menurut pendapat para linguis modern, pengajaran bahasa didasarkan pada beberapa prinsip, prinsip yang terpenting antara lain linguistik kontrastif. Linguistik kontrastif yaitu salah satu cabang ilmu bahasa yang membandingkan dua bahasa dari segala komponennya secara sinkronik sehingga ditemukan perbedaan dan kemiripan. Dari hasil temuan itu, dapat diduga adanya berbagai penyimpangan, pelanggaran, atau kesalahan yang mungkin dilakukan para dwibahasawan.
Objek kajian linguistik kontrastif adalah pengkontrasan antara dua bahasa atau dua dialek atau bahasa dan dialek, yaitu antara dua tataran bahasa yang semasa.
Linguistik kontrastif bertujuan membuktikan perbedaan-perbedaan antara dua tataran. Oleh karena itu, ia pada prinsipnya mengacu pada linguistik deskriptif. Apabila kedua tataran bahasa itu terdeskripsikan secara cermat melalui satu metode bahasa, maka setelah itu keduanya dapat dikaji melalui metode kontrastif.
Konfirmasi perbedaan antara kedua tataran bahasa dapat memperjelas aspek-aspek kesulitan dalam pengajaran bahasa. Apabila seorang penutur bahasa Inggris ingin belajar bahasa Arab, maka kesulitan yang dihadapi pertama kali merujuk keperbedaan bahasa ibu, yaitu bahasa Inggris dengan bahasa yang ia pelajari, yaitu bahasa Arab. Ada perbedaan individual yang membuat sebagian mereka mampu mempelajari bahasa asing lebih cepat daripada yang lainnya. Akan tetapi linguistik kontrastif tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan ini, melainkan memperhatikan perbedaan yang objektif.
Oleh karena itu, ia mengkontraskan dua tataran bahasa dengan tujuan mengkaji aspek-aspek perbedaan di antara keduanya dan mengidentifikasi kesulitan yang diakibatkan oleh perbedaan itu. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para penutur bahasa Jepang dalam mempelajari bahasa Arab tidak sama dengan kesulitan yang dihadapi oleh para penutur bahasa Indonesia ketika mereka belajar bahasa Arab. Menentukan kesulitan yang objektif dapat dilakukan melalui pengkontrasan antara bahasa ibu dan bahasa sasaran.
Berikut ini beberapa pengkontrasan antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab:
a. Kontrastif Vokal Bahasa Indonesia dan Arab
Vokal bahasa Indonesia dan bahasa Arab mempunyai perbedaan yaitu:
1. Vokal bahasa Indonesia varian fonemnya lebih banyak dibanding bahasa Arab. Bahasa Indonesia berjumlah sepuluh fonem sedang Arab hanya ada tiga fonem.
2. Vokal dalam bahasa Arab bisa mempengaruhi panjang pendek kata/ kalimah di mana panjang pendeknya itu mempengaruhi makna. Sedangkan vokal dalam bahasa Indonesia tidak dapat dipanjang-pendekkan dan tidak mempengaruhi makna.
3. Di dalam bahasa Arab hanya ada monoftong, tidak ada diftong, berbeda dengan bahasa Indonesia yang mempunyai vokal diftong.
4. Vokal bahasa Arab ketika berdiri sendiri dapat menjadi sebuah kata dan mempunyai makna, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak dapat berdiri sendiri harus bergabung dengan fonem yang lain dalam membentuk kata dan makna.
b. Kontrastif antara Konsonan Arab dengan Konsonan Indonesia
1. Konsonan yang bersamaan
a. B dan Ba bilabial/letupan/bersuara
b. M dan Mim bilabial/nasal/bersuara
c. W dan Waw bilabial/geseran/bersuara
d. F dan fa labiodental/geseran/tidak bersuara
e. K dan kaf dorsovelar/letupan/tidak bersuara
f. Q dan qaf dorsouvular/letupan/bersuara
g. H dan Ha pharyngal/geseran/tidak bersuara
2. Konsonan yang Berbeda Sifat atau Makhraj
a. sin (apikodental/geseran/tidak bersuara), sedangkan S (laminoalveolar/ geseran/tidak bersuara)
b. zai (apikodental/geseran/bersuara), sedangkan Z (laminoalveolar/geseran/ bersuara)
c. ta (apikoalveolarl/letupan/tidak bersuara), sedangkan T (apikodental/letupan/tidak bersuara)
d. dal (apikoalveolar/letupan/bersuara), sedangkan D (apikopalatal/letupan/bersuara)
e. lam (apikoalveolar/sampingan/bersuara), sedangkan L (apikoalveolar/sampingan/ bersuara)
f. nun (apikopalatal/sampingan/bersuara), sedangkan N (apikoalveolar/geseran/nasal/bersuara)
g. ra (apikopalatal/geseran/nasal/bersuara), sedangkan R (apikoalveolar/geseran/berulang/bersuara
h. syin (apikopalatal/geseran/tidak bersuara), sedangkan Sy (laminoalveolar/geseran/tidak bersuara)
i. jim (apikopalatal/letupan/bersuara), sedangkan J (mediopalatal/campuran/bersuara)
j. ya (apikopalatal/gesera/bersuara/semivokal), sedangkan Y (mediopalatal/geseran/bersuara/semivokal)
k. ghain (faringal/geseran/bersuara), sedangkan G (dorsovelar/geseran/bersuara)
l. kha (faringal/geseran/tidak bersuara), sedangkan Kh (dorsovelar/geseran/tidak bersuara)
m. hamzah (faringal/letupan/bersuara), sedangkan hamzah (glottal/letupan/antara)
BAB III
KESIMPULAN
Kefasihan seorang anak untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu. Jika kesempatan banyak maka kefasihan berbahasanya semakin baik.
Di dalam pembelajaran B2 kepada siswa akan dijumpai kebiasaan-kebiasaan B1 digunakan kedalam B2. Kebiasaan ini bisa berupa sistem B1 yang digunakan ke dalam B2. Padahal kedua bahasa tersebut memiliki sistem yang berbeda.
Secara khusus analisis kontrastif atau lebih populer disingkat anakon adalah kegiatan memperbandingkan struktur bahasa ibu atau bahasa pertama (Bl) dengan bahasa yang diperoleh atau dipelajari sesudah bahasa ibu yang lebih dikenal dengan bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa tersebut.
Linguistik kontrastif bertujuan membuktikan perbedaan-perbedaan antara dua tataran. Oleh karena itu, ia pada prinsipnya mengacu pada linguistik deskriptif. Apabila kedua tataran bahasa itu terdeskripsikan secara cermat melalui satu metode bahasa, maka setelah itu keduanya dapat dikaji melalui metode kontrastif. Konfirmasi perbedaan antara kedua tataran bahasa dapat memperjelas aspek-aspek kesulitan dalam pengajaran bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
- Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta
- Mansur. 1989. Analisis Kesalahan. Ende: Nusa Indah
- Moeliono, A.M. 1988. Sikap Bahasa Yang Bertalian Dengan Usaha Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. Makalah dalam kongres bahasa V. Jakarta
- Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
- Samsuri. 1981. Analisis Bahasa. Jakarta. Erlangga
- Tarigan. 1990. Pengajaran Analisis Bahasa. Bandung:Angkasa
PUISI ARAB MASA ISLAM
PUISI ARAB MASA ISLAM
A. Perkembangan Puisi Arab Masa Islam
Berbicara sastra pada awal Islam tentu tidak dapat dipisahkan dari pengaruh al-Quran sebagai karya sastra agung yang di turunkan ditengah-tengah bangsa Arab yang telah maju dalam bidang sastra. Sebagaimana kita ketahui, al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad yang isinya sarat dengan mukjizat.
Al-Quran mencerai-beraikan semua norma keunggulan sastra yang pernah dikenal bangsa Arab. Setiap ayat al-Quran sesuai dan memenuhi norma sastra yang pernah dikenal, dan bahkan mengunggulinya.
Kaum muslim berusaha dengan tekun mempelajari al-Quran sebagai karya sastra dan mengungkap rahasia keindahan dan kemukjizatannya. Sastra pada periode ini dengan jelas menggambarkan kepada kita tentang kehidupan masyarakat islam yang bergitu gemilang jauh dari kekacauan, sebuah lembaran sejarah yang paling indah, kita baca baris-barisnya yang akan menghembuskan aroma keikhlasan, memperlihatkan cahaya tauhid dan menampakkan sebuah semangat yang mampu merontokkan gunung, dan menundukkan berbagai macam kesulitan.
Lembaran sejarah itu telah ditulis dengan darah para syuhada yang kelak pada hari kiamat akan menebarkan bau wangi bak minyak misik, baris-baris mutiara itu ditulis oleh tangan-tangan yang suci dan hati yang sehat nan tulus. sebuah masa dimana kehidupan begitu tenteram dikarenakan keimanan yang ada pada hati-hati mereka. Pada periode ini sastra pun berkembang sesuai dengan ruh keislaman.
Sedangkan style dan lafadz yang digunakan itu banyak menggunakan istilah-istilah keagamaan karena pemilihan lafaznya cukup ketat yaitu merujuk pada al-Quran, lafadznya pun bukan dari lafadz asing serta mendominasi uslub perkotaan (hadlar) di atas gaya bahasa pedalaman (badiyah).
Banyak sekali tokoh-tokoh sastrawan dari bangsa arab, baik itu penyair maupun prosais. Jika pada masa jahiliyah banyak terdapat syi’ir yang bertemakan ghazal, madah, hija’ dan fakhr, Islam datang membawa perubahan. Sejak Islam datang banyak banyak para penyair yang menulis syi’irnya dengan mengambil rujukan dari al-Quran dan Hadits Nabi. Diantara nama-nama tokoh/ penyair masa Islam adalah,
• Ka’ab ibn Malik al-Anshari
• Abdullah ibn Rawahah
• Hasan ibn Tsabit
• Al-Hutay’ah
Pengaruh Islam terhadap bahasa Arab, diantaranya adalah:
• Berkembangnya pemakaian bahasa Arab dikalangan muslim
• Meluasnya perbendaharaan bahasa Arab
• Bahasa Arab bertambah halus
• Bertambah tinggi nilai sastranya
Pengaruh al-Quran terhadap sastra Arab, diantaranya adalah:
• Sebagai pendorong pada semua materi sastra Arab
• Para sastrawan banyak menukil pola baru dari al-quran
• Menjadi sebab berkembangnya ilmu balaghoh
• Memotivasi para peneliti sejarah klasik berkenaan dengan umat terdahulu dan para nabi
B. Tujuan Puisi Masa Islam
Puisi masa Islam ditinjau dari tujuan dan seninya, arti dan intisarinya, lafadz dan gaya bahasanya, wazan dan qafiyahnya adalah sebagai berikut:
1. Menyebarkan akidah agama dan anjuran untuk mengikutinya
2. Dorongan untuk berperang dan berjihad dijalan Allah
3. Hija’, yakni membela Islam dan menyerang musyrikin
4. Penggambaran peperangan dan penguasaan terhadap kota-kota serta bagaimana cara mengepungnya
5. Pujian, pada prinsip dasar Islam pujian tidak boleh berlebihan
6. Penggunaan kata pengantar cinta dan cumbu rayu halus
C. Tingkatan Penyair Masa Islam
Pada masa permulaan Islam, muncul empat tingkatan para penyair, yakni:
1. Kelompok yang meninggalkan puisi dan hanya focus untuk beribadah kepada Allah, seperti Labid ibn Rabi’ah
2. Kelompok yang melakukan penindasan pada nabi dan mengejeknya, seperti Abu Sufyan ibn Abdul Mutholib dan Ka’ab ibn Asyraf
3. Kelompok yang menjadi penolong nabi, seperti Hassan ibn Tsabit, Ka’ab ibn Malik, Abdullah ibn Rawahah, Ka’ab ibn Zuhair
4. Kelompok yang tetap berpuisi seperti sebelumnya, tapi juga menjauhi apa yang dilarang oleh Islam, seperti Abu Dahbal al-Jahiy, al-Nabighoh al-Ja’diy dll.
BAB III
KESIMPULAN
Islam datang membawa perubahan bagi kebanyakan masyarakat Arab, baik itu dalam bidang sosial, budaya, politik maupun intelektual.
Puisi-puisi pada masa Islam pun berkembang. Puisi pada masa Islam ini sedikit berbeda dengan puisi-puisi pada masa jahiliyah. Karakteristik puisi pada masa Islam yaitu menggunakan al-Quran dan Hadis sebagai rujukan dan menjauhi hal-hal yang bersifat jahiliyah dan bertentangan dengan ruh keislaman.
Sedangkan style dan lafadz yang digunakan itu banyak menggunakan istilah-istilah keagamaan karena pemilihan lafaznya cukup ketat yaitu merujuk pada al-Quran, lafadznya pun bukan dari lafadz asing serta mendominasi uslub perkotaan (hadlar) di atas gaya bahasa pedalaman (badiyah).
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Hasyim, Juzif, 1968, AL-Mufid Fi Al-Adab Al-Arabiy, Beirut: Al-Maktab Al-Tijariy,
- Al-Iskandari, Ahmad Dan Mushtofa Anany, 1916, Al-Wasith Fi Al-Adab Al-Araby Wa Tarikhuhu, Mesir: Dar Al-Maarif,
- Al-Maliji, Khasan Khamis, 1989, Al-Adab Wa Al-Nushush Li Ghair Al-Nathiqin Bi Al-Arabiyah, Riyadl: Jami’ah Al-Malik Al-Su’udiyah,
- Al-Muhdar, Yunus Ali Dan Bey Arifin, 1983, Sejarah Kesusastraan Arab, Surabaya: PT. Bina Ilmu,
- Dhaif, Syauqi, 2001, Al-‘Ashru Al-Islami, Cairo: Darul Ma’arif,
- Farukh, Umar, 1981, Al-Manhaj Al-Jadid Fi Al-Adab Al-Arabi, Beirut: Darul Ilmi Li Al-Malayin,
- Wargadinata, Wildana Dan Laily Fitriyani, 2008, Sastra Arab Dan Lintas Budaya, Malang: Uin Malang Press,
A. Perkembangan Puisi Arab Masa Islam
Berbicara sastra pada awal Islam tentu tidak dapat dipisahkan dari pengaruh al-Quran sebagai karya sastra agung yang di turunkan ditengah-tengah bangsa Arab yang telah maju dalam bidang sastra. Sebagaimana kita ketahui, al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad yang isinya sarat dengan mukjizat.
Al-Quran mencerai-beraikan semua norma keunggulan sastra yang pernah dikenal bangsa Arab. Setiap ayat al-Quran sesuai dan memenuhi norma sastra yang pernah dikenal, dan bahkan mengunggulinya.
Kaum muslim berusaha dengan tekun mempelajari al-Quran sebagai karya sastra dan mengungkap rahasia keindahan dan kemukjizatannya. Sastra pada periode ini dengan jelas menggambarkan kepada kita tentang kehidupan masyarakat islam yang bergitu gemilang jauh dari kekacauan, sebuah lembaran sejarah yang paling indah, kita baca baris-barisnya yang akan menghembuskan aroma keikhlasan, memperlihatkan cahaya tauhid dan menampakkan sebuah semangat yang mampu merontokkan gunung, dan menundukkan berbagai macam kesulitan.
Lembaran sejarah itu telah ditulis dengan darah para syuhada yang kelak pada hari kiamat akan menebarkan bau wangi bak minyak misik, baris-baris mutiara itu ditulis oleh tangan-tangan yang suci dan hati yang sehat nan tulus. sebuah masa dimana kehidupan begitu tenteram dikarenakan keimanan yang ada pada hati-hati mereka. Pada periode ini sastra pun berkembang sesuai dengan ruh keislaman.
Sedangkan style dan lafadz yang digunakan itu banyak menggunakan istilah-istilah keagamaan karena pemilihan lafaznya cukup ketat yaitu merujuk pada al-Quran, lafadznya pun bukan dari lafadz asing serta mendominasi uslub perkotaan (hadlar) di atas gaya bahasa pedalaman (badiyah).
Banyak sekali tokoh-tokoh sastrawan dari bangsa arab, baik itu penyair maupun prosais. Jika pada masa jahiliyah banyak terdapat syi’ir yang bertemakan ghazal, madah, hija’ dan fakhr, Islam datang membawa perubahan. Sejak Islam datang banyak banyak para penyair yang menulis syi’irnya dengan mengambil rujukan dari al-Quran dan Hadits Nabi. Diantara nama-nama tokoh/ penyair masa Islam adalah,
• Ka’ab ibn Malik al-Anshari
• Abdullah ibn Rawahah
• Hasan ibn Tsabit
• Al-Hutay’ah
Pengaruh Islam terhadap bahasa Arab, diantaranya adalah:
• Berkembangnya pemakaian bahasa Arab dikalangan muslim
• Meluasnya perbendaharaan bahasa Arab
• Bahasa Arab bertambah halus
• Bertambah tinggi nilai sastranya
Pengaruh al-Quran terhadap sastra Arab, diantaranya adalah:
• Sebagai pendorong pada semua materi sastra Arab
• Para sastrawan banyak menukil pola baru dari al-quran
• Menjadi sebab berkembangnya ilmu balaghoh
• Memotivasi para peneliti sejarah klasik berkenaan dengan umat terdahulu dan para nabi
B. Tujuan Puisi Masa Islam
Puisi masa Islam ditinjau dari tujuan dan seninya, arti dan intisarinya, lafadz dan gaya bahasanya, wazan dan qafiyahnya adalah sebagai berikut:
1. Menyebarkan akidah agama dan anjuran untuk mengikutinya
2. Dorongan untuk berperang dan berjihad dijalan Allah
3. Hija’, yakni membela Islam dan menyerang musyrikin
4. Penggambaran peperangan dan penguasaan terhadap kota-kota serta bagaimana cara mengepungnya
5. Pujian, pada prinsip dasar Islam pujian tidak boleh berlebihan
6. Penggunaan kata pengantar cinta dan cumbu rayu halus
C. Tingkatan Penyair Masa Islam
Pada masa permulaan Islam, muncul empat tingkatan para penyair, yakni:
1. Kelompok yang meninggalkan puisi dan hanya focus untuk beribadah kepada Allah, seperti Labid ibn Rabi’ah
2. Kelompok yang melakukan penindasan pada nabi dan mengejeknya, seperti Abu Sufyan ibn Abdul Mutholib dan Ka’ab ibn Asyraf
3. Kelompok yang menjadi penolong nabi, seperti Hassan ibn Tsabit, Ka’ab ibn Malik, Abdullah ibn Rawahah, Ka’ab ibn Zuhair
4. Kelompok yang tetap berpuisi seperti sebelumnya, tapi juga menjauhi apa yang dilarang oleh Islam, seperti Abu Dahbal al-Jahiy, al-Nabighoh al-Ja’diy dll.
BAB III
KESIMPULAN
Islam datang membawa perubahan bagi kebanyakan masyarakat Arab, baik itu dalam bidang sosial, budaya, politik maupun intelektual.
Puisi-puisi pada masa Islam pun berkembang. Puisi pada masa Islam ini sedikit berbeda dengan puisi-puisi pada masa jahiliyah. Karakteristik puisi pada masa Islam yaitu menggunakan al-Quran dan Hadis sebagai rujukan dan menjauhi hal-hal yang bersifat jahiliyah dan bertentangan dengan ruh keislaman.
Sedangkan style dan lafadz yang digunakan itu banyak menggunakan istilah-istilah keagamaan karena pemilihan lafaznya cukup ketat yaitu merujuk pada al-Quran, lafadznya pun bukan dari lafadz asing serta mendominasi uslub perkotaan (hadlar) di atas gaya bahasa pedalaman (badiyah).
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Hasyim, Juzif, 1968, AL-Mufid Fi Al-Adab Al-Arabiy, Beirut: Al-Maktab Al-Tijariy,
- Al-Iskandari, Ahmad Dan Mushtofa Anany, 1916, Al-Wasith Fi Al-Adab Al-Araby Wa Tarikhuhu, Mesir: Dar Al-Maarif,
- Al-Maliji, Khasan Khamis, 1989, Al-Adab Wa Al-Nushush Li Ghair Al-Nathiqin Bi Al-Arabiyah, Riyadl: Jami’ah Al-Malik Al-Su’udiyah,
- Al-Muhdar, Yunus Ali Dan Bey Arifin, 1983, Sejarah Kesusastraan Arab, Surabaya: PT. Bina Ilmu,
- Dhaif, Syauqi, 2001, Al-‘Ashru Al-Islami, Cairo: Darul Ma’arif,
- Farukh, Umar, 1981, Al-Manhaj Al-Jadid Fi Al-Adab Al-Arabi, Beirut: Darul Ilmi Li Al-Malayin,
- Wargadinata, Wildana Dan Laily Fitriyani, 2008, Sastra Arab Dan Lintas Budaya, Malang: Uin Malang Press,
Selasa, 26 Maret 2013
butiran DEBU
Lama ku cinta ktika qt bersama
berbagi rasa tuk selamanya,
Lama ku cinta ktika qt bersama
berbagi rasa Sepanjang usia
Hingga tiba saatnya akupun melihat
Cintaku yang khianat
Cintaku berkhianat
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran DEBU
Menepilah ! menjauhlah!
Smua yg terjadi antara kita
berbagi rasa tuk selamanya,
Lama ku cinta ktika qt bersama
berbagi rasa Sepanjang usia
Hingga tiba saatnya akupun melihat
Cintaku yang khianat
Cintaku berkhianat
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran DEBU
Menepilah ! menjauhlah!
Smua yg terjadi antara kita
Langganan:
Postingan (Atom)